Entri Populer

Sunday, September 30, 2012

My Dream



My Dream

Tak bolehkah aku berharap.....???? Bukankah berharap adalah hak setiap orang????? Aku..... ingin berharap...... Agar waktu ini bisa berhenti dan diputar ke masa lalu.... Terlalu berharapkah aku?????

“Aikiko Fukuda!” DEGH! “I... Iya????”, jawabku tergagap. Barulah kutersadar dari lamunanku. Aku mencoba mengumpulkan kepingan-kepingan ingatanku. Ini hari Minggu. Pukul 9 pagi. Oh ya..... Aku sedang sarapan di asrama liburan yang kubenci! “Hahahahaa......”, semua orang yang berada di ruangan itu menertawakanku! Sialan! “Apa yang kau lamunkan, sih, Fukuda?”, tanya Bu Wina, guru yang terkenal sebagai guru tergalak yang pernah ada di Aquila sekaligus guru yang tadi membuatku tersadar. Ya, nama asrama ini adalah Asrama Liburan Aquila. “Saya hanya mengingat-ingat sarapan tiap pagi di rumah saya. Apa itu salah, Bu?”, jawabku yang bertujuan menyudutkan Bu Wina. Semua murid terperangan heran plus kaget. Tapi, tidak halnya dengan Bu Wina. “Ti... tidak, Fukuda!”

Lalu, tanpa memedulikan yang lain, aku melanjutkan makanku. Aku tidak BERBOHONG SAMA SEKALI. Sebelumnya, aku memang mengingat menu sarapan di rumahku. Jadi, tolong katakan dengan jujur, apakah aku 100% jujur, 50% jujur, atau 0% jujur???? Hm? Nyem... nyem... glup! Aku tetap melanjutkan menikmati sarapanku. Hei.... kok keadaannya sepi-sunyi? Aku melihat ke seluruh penjuru ruangan. APA? Kok... Aku dilihat dengan tatapan aneh gini?! Sama ‘teman-teman’ yang tak kukenal juga dengan Bu Wina!?

“Apa?”, tanyaku sinis dan tajam. “Stop looking me like that, okay? Aku tak ingin dijadikan sebagai bahan pertunjukkan, you all know?Kalau kalian tak mau melahap sarapan kalian, ya sudah! OKAY!?” Lalu, tanpa diperintah, aku melanjutkan melahap sarapanku.... LAGI. Aah, selesai juga....

“Bu Wina! Saya ijin ke kelas musik dulu karena saya sudah selesai menyantap sarapan saya!”, ijinku seraya berdiri. Kulihat semua masih saja seperti tadi: melongo, menatapku aneh, dan tidak menyentuh menu sarapan mereka, SAMA SEKALI. Menyedihkan. Aku melangkah keluar ruang makan Orchird karena tadi Bu Wina sudah mengangguk.

Begitu aku berjalan keluar, yang kudengar.... Yah... Bisik-bisikkan murid lain.
“Anak itu aneh sekali!”
“Ya! Dia...”
“Psshhhtt!!!! Dia masih belum jauh!!!!”
“...”
“Dia sepertinya merendahkan kita!!!!”
“Iya! Mentang-mentang hanya karena dia seperti....”
“Mei...”
“Ya.... Mei Misaki....”
“Mei Misaki?”
“Psstt...! Ya... Mei Misaki dari anime Another itu!”
“......”
Dan bisikkan-bisikkan lainnya. Sudahlah. Itu semua takkan kuhiraukan. Seharusnya mereka semua malu. Mengejek orang dari belakang. Dasar pengecut, ejekku. “Nobody perfect...”, ucapku dalam perjalananku menuju kelas. “I have try to be a perfect butler you, Master. But nobody can be perfect.”, aku melanjutkan seperti yang diucapkan tokoh Sebastian dalam anime Black Butler....

****

“Oke. Siapa yang mau mencoba dulu?”, tanya Kak Mio, seorang mahasiswa jurusan kesenian yang mengajar di kelas musik A.L Aquila ini. Kulihat tak ada yang maju, maka....

“Saya!”, ujarku seraya berdiri. “Mio-san, biar aku saja. Aku malas berbasa-basi lagi.”, ucapku jujur sambil berjalan menuju panggung di ruang kelas musik. “Oke..... Nyalimu keren juga, Fukuda!”, jawab Mio-san. Aku meraih mic wireless dari tempat standingnya. Standingnya kuturunkan dari panggung. Mio-san memainkan minus-one lagunya dan ada video yang muncul di layar yang menjadi background panggung.

Aku-pun mulai menghayati lagu. Dan ketika kumulai, semua terpana padaku. “Haiaiaiaiaia.... Haiiaaiiaia.... Haaaahahaa.... Haaahhhaaammmmhhmm... Yee...”, aku mulai bernyanyi dengan melow.

Saigo no kisu wa tabako no flavour aga shita niga~kute setsunai kaori....”, lalu aku melanjutkan terus.......
“Ashitano ima goro niwa
 Anatawa doko ni irun darou dare wo
Omoterun darou....”, nadaku mulai meningi, alih sopran bak opera. Aku bergaya DENGAN SANGAT MENGHAYATI.
You are always gonna be the one
 Itsuka darekato matta koi ni ochitemon
I’ll remember to love you tought me how
 You are always gonna be my love
Mada kanashii love love song
Atarashii uta utaeru made....”, hingga usai.

“Oke!!! Kau membawakan lagu ini dengan tepat!!!! First Love by Hikaru Utada! Tepat!!!”, puji Mio-san. Tapi, aku benci, sangat benci jika aku dipuji oleh murid lain. Mereka adalah penjilat.

***

Tap... Tap... Tap... Tap... Suara langkah kaki itu mendekat kian kemari. Siapa? Mau apa? “Siapa...”, bisikku lirih hingga terdengar seperti desis. “Ai...”, jawab suara itu. “Ai....” AI? AI? AI KATAMU? “Ai.... Ai... Ai.... Kemari.....”, lanjut suara itu. Ai itu.... “Ai... Kemarilah.... Ayo....” lanjut suara itu.... lagi. Aku memandang sekeliling. Gelap. Di mana? Di mana aku? PATS! Tiba-tiba terang. Aku menyipitkan mata. Taman bunga. Aku duduk di taman bunga. “Ai...”, aku merinding. Ai... Hanya orang tertentu yang tahu siapa Ai sebenarnya.
Aikiko Fukuda adalah Ai Mihara. Nama panggungku. Siapa!? “Ai Mihara... Mihara.... Mihara.... Ai....”

Aku menoleh. “Siapa?”, tanyaku berdesis. “Kamu....”, lanjutku. Hanya angin sepoi berdesir. Tak ada yang menjawab. Yang tahu rahasiaku hanyalah keluargaku saja. Saja? Tidak. Ada.... Meiko Konohara dan Zora Hikaru. Masa.... Dia? (Seseorang, pastinya) “Mei, kaukah itu?”, tanyaku. Dan..... “Ssss.....”, jawabnya. Aku menoleh. Tak ada siapapun. Siapa? Siapa? Meiko-kah? Meiko...... Mengingatnya, airmataku merebak. Siapa. “Kau.... menangis....”, sahut suara itu lagi. Aku merinding.

“Bukan salahmu.”, katanya lagi. Lama-lama, suara itu kukenal.... Aku benar. “Ai...... Stop cengeng..... Lama tak bertemu....”, lanjut suara itu. Meiko. Di depanku. Aku berlari memeluknya. Eyepatch-ku lepas. Kini, terlihatlah mataku yang satu lagi. Berambut pendek, ber-eyepatch, dan penyendiri adalah aku. Mataku tidak berwarna sama. Yang tidak tertutup eyepatch berwarna merah. Semerah darah. Sedangkan yang satunya, yang ber-eyepatch, berwarna biru, sebiru laut.

“Mata birumu itu tak dapat kusalahkan.”, ucap Meiko. “Ah, iya.... Kejadian itu, kan.... Aku dianggap bersalah oleh orangtuaku. Oleh polisi juga. Para polisi telah mengecapku sebagai anak yang berdosa serta tak mau mengakui kesalahan. Yang salah adalah penjahat itu!”, seruku sambil berkaca-kaca sambil menahan tangis.

***
 
Hari itu, aku dan Meiko bermain di sebuah taman bunga. Kami bercanda-ria, seolah tak ada di beban di dunia ini. Kami tidur telentang sambil memandang langit biru dan awan yang berarak..... “DOR!!!!”, tiba-tiba sebutir peluru mengenai mata kanan sahabatku. Crat! “U-uh... A..i....A....aku mati rasa.... Ai....”, erang Meiko. “Ah!”, aku mengeluarkan kekuatan supranaturalku. “DOR!!!!”, sebutir peluru mengenai mata kiriku. “Argh!”, aku mengerang. “Blue Tide Knot.... open!!!”, kataku. Zrash!!! Sebuah ombak menewaskan seorang penjahat. Dua orang lagi.
“Meiko! Aku tak dapat mengalahkan mereka dengan sebelah mata saja!”
“Ambillah mata kiriku....”, katanya dengan kesakitan.
“Jangan bercanda!”
“Tidak....”
“Serius? Aku.... tak tega....”
“Ayolah....”
Wizard Eye!”, kuucap mantra. Syut.... Blegh
“Mataku akan selalu hidup....”, ucap Meiko. Dengan mata Meiko, aku memiliki kekuatan baru.
Fire Tide from the Fire Ocean!”
Byrash! Tinggal seorang lagi. Ia mengambil pistol dan menembak kakiku. DOR!!! Brugh! Aku pingsan....

***

Hah! Itu hanya mimpi? Aku bingung. Aku terbangun di kamar asramaku yang memuakkan. Aku sendirian. Jam berapa ini? Kulihat jam berhenti berdetak. 03:30. Terjebak dalam waktu, huh? Mengapa bisa?????

“Pergilah ke masa lampau....”, Meiko berkata. “Aku akan selalu berada di sisimu, Ai...” Kagetnya bukan main. Tetapi, semuanya berlangsung cepat. Hingga akhirnya, Meiko yang ada di dalam dirikulah yang mengambil kendali tubuhku, seluruhnya. Walau hanya sesaat.
“Paradise Time: To Past!”
WOSSH!!!!

“Jangan bercanda!”
“Tidak....”
“Serius? Aku... tak tega....”
“Ayolah....”

Itu..... Aku dan Meiko! Tidak.... Ini tak boleh terulang lagi. Aku tahu urutan kejadian. Meiko tewas, penjahat terakhir menembakku hingga pingsan, lalu ia membuatku seolah-olah akulah pembunuh Meiko, bukan penjahat terakhir itu.

Paradise Time: Stop!”, ujarku tanpa sadar. Waktu berhenti, tepat saat aku akan mengambil mata Meiko. Aku pun membunuh penjahat terahir itu, memanggil polisi, dan membuat “diriku masa lalu” pingsan dan membatalkan mantranya
WOOSHH!!!!

Tiba-tiba aku berada di kamarku, bukan di Aquila. Meiko tersenyum. Kami berdua berpelukan. Hanya dengan 1 kalimat, 2 kata.


“Kita berhasil”


Kami sudah tersenyum satu sama lain.



No comments:

Post a Comment