Entri Populer

Tuesday, September 18, 2012

Malang di Mataku


Malang di Mataku
Malang di mataku, begitu indah, kota yang hijau, pepohonan di mana-mana membuat suasana kota menjadi rindang. Hawa yang dingin adalah khas kota Malang. Walau, hawa dingin di Malang sekarang sudah tidak sedingin seperti dulu lagi. Nah, itu pendapatku tentang kota Malang. Apa pendapatmu???? Berikut adalah hasil wawancara dari beberapa orang. Tentang hal apa??? Pendapat, kritik saran, dan kekurangan tentang kota Malang, tentunya. Check thiz’ out!


1.      Putri, 12 th, 7B
“Malang jalannya cukup padat. Kotanya lumayan bersih. Orangnya baik, ramah, dan sopan. Saranku, membuat penghasil energi (listrik, air, dan lain-lain) yang memanfaatkan hawa dingin (maksudnya, membuat penghasil energi listrik melalui hawa dingin di kota Malang ) sehingga dapat menjadi pengganti sel surya. Karena di kota Malang kebanyakan hawa dingin sehingga dapat lebih hemat biaya. Kekurangannya, hawanya dingin, karena di Medan , tempat tinggalku yang dulu tidak sedingin di kota Malang”

2.     Hans (Bon-bon) dan Amel, 12 th, 7B
“Malang sejuk dan dingin. Kendaraannya tidak sepadat di Jakarta. Malang disebut juga Kota Bunga karena di sini terdapat banyak sekali bunga dan tanaman. Saran saya, Malang membuat mobil energi hawa dingin. Sehingga, Malang menjadi kota terindah di dunia! Hahahaa.... J Dan juga, menjadi sasaran fotografi skala internasional sehingga Malang menjadi harum namanya. Dan kita, anak SMPK Kolese Santo Yusup 1 Malang harus menjaga nama baik sekolah ini. Dengan cara, belajar dengan sungguh-sungguh dan banyak mengikuti lomba berskala internasional agar nama SMPK Kolese Santo Yusup 1 dapat dijunjung tinggi oleh negara-negara lainnya sehingga banyak turis yang datang ke Indonesia. Seperti moto sekolah ini, TETAP BERSEMANGAT!”

3.     Agnes, 12 th, 7C
“Lebih banyak membuang sampah pada tempatnya. Kota indah, tetapi menurutku, mall-nya kurang.”

4.     Pak Tri, pengajar bidang studi olahraga.
“Malang sudah semakin panas dibandingkan 30 tahun yang lalu. Pertama kali masuk Malang, dinginnya luar biasa. Sehari bisa makan sampai 5 kali. Karena dingin, tiap 2-3 jam lapar. Dulu, saya kuliahnya di Malang, jadi tahu perubahan suhu di Malang. Mungkin karena global warming dan polusi kendara’an berjubel, ya.... Sehingga Malang sudah tidak dingin lagi. Dulu, di belakang Museum Brawijaya, ada taman resapan air yang kecil. Tetapi, sekarang dijadikan pemukiman. Banyaknya mall-mall yang memengaruhi jiwa anak muda yang menjadi konsumtif. Seharusnya, sudah ada jalan khusus untuk bersepeda karena saya setiap hari naik sepeda. Sehingga bikers merasa tidak aman, tidak nyaman, serta penuh polusi. Saran saya, usul ke pemerintah kota untuk segera membuat jalur khusus sepeda seperti di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Juga untuk semua masyarakat, jika ingin berpergian lebih baik naik sepeda saja. Selain nyaman, sehat, tidak ada macet, yang perlu diketahui.... Tidak ada penilangan bagi pengguna sepeda, malah, dicarikan jalan oleh polisi, tidak keluar polusi, murah, dan yang paling penting.... Ikut menyelamatkan Bumi J.”

5.     Vivi dan Evelina, 13 th, 8C
“Kurang bersih. Pemerintahnya kacau, tak bis diandalkan. Lebih banyak petugas kebersihan. Masyarakatnya harus lebih disiplin dalam menjaga lingkungan. Dilarang korupsi. Sekolah gratis bagi mereka yang tidak mampu. Menurut kami, Malang kota terbesar kedua di Jatim. Kualitas pendidikannya ditingkatkan lagi. Sarannya, sarana dan pra-sarananya diperbanyak lagi. Penghijauannya ditingkatkan lagi.”

No comments:

Post a Comment